Home » , » On Process: Puter Giling Tali Sukmo

On Process: Puter Giling Tali Sukmo

Puter Giling Tali Sukmo:
Sebuah Novel oleh Jamasri



SINOPSIS
Desa Merto Jawa tengah 1970.Joko, Triyati dan Projo merupakan tiga serangkai, tiga sahabat dan tiga idola bagi masyarakat dan teman-temannya.Bukan hanya penampilannya saja yang keren, tapi juga prestasi akademiknya juga keren, mereka selalu kompak meski sebenarnya status sosial mereka berbeda.
Joko merupakan anak orang miskin dan sudah tidak mempunyai ayah sejak bayi, ibunya hanya seorang penjual lontong sayur, tapi jangan salah, ibunya Joko adalah wanita yang selalu tampil keren layaknya peragawati.
Triyati merupakan anak dari orang terkaya di desa Merto, orang tua Triyati adalah penjual atau agen hampir semua kebutuhan pokok masyarakat.Bukan hanya di Merto, tapi di pasar kecamatan.
Projo meskipun bukan anak orang terkaya, tapi keluarganya Projo bisa dibilang keluarga paling eksklusif, ayah Projo merupakan adik kandung sang kepala desa dan berprofesi sebagai pengusaha mebel walaupun hanya kecil-kecilan, sedangkan ibunya Projo merupakan seorang guru SMP, dimana di kecamatan hanya ada satu SMP, di sekolah itulah mereka bertiga bersekolah.
Projo sendiri sejak kecil sudah di gadang-gadang akan menjadi kepala desa menggantikan pak De nya itu, sebab pak de nya yang kepala desa itu tidak punya anak laki-laki,. bukan semata karena Projo masih keluarga lurah maka dia di gadang-gadang jadi lurah, tapi karena ia memang mempunyai kepribadian yang sangat menonjol, dan mempunyai jiwa kepemimpinan.
Suatu hari setelah menyelesaikan ujian SMP Joko menyatakan cintanya pada Triyati, pada zaman itu didesa Merto bisa lulus SMP sudah merupakan pencapaian yang luar biasa,apalagi bagi Joke dan lulus SMP, berarti sudah berusia 17 tahun, sebab pada saat masuk sekolah dasar rata-rata sudah berusia 8 tahun, Triyati dengan senang hati menerima cintanya Joko, sebab sebenarnya Triyati juga suka sama Joko.
Diluar dugaan beberapa hari kemudian Projo dengan keluarganya melamar Triyati, sebab sebenarnya Projo juga sudah menyukai Triyati sejak dulu.Hanya saja Projo tak mau mengungkapkan perasaan cintanya tersebut dari dulu karena Projo tidak ingin Triyati merasa terbelenggu atas nama cinta dan Projo ingin Triyati menjalani dan menikmati hidup ini tanpa terbebani akan cintanya.
Keluarga Triyati tentu saja menerima lamaran tersebut dengan senang hati, sebab keluarga Projo di anggap sederajad dengan keluarga Triyati, lebih dari itu, Projo dan Triyati sudah berteman akrab sejak dulu.Jadi tidak ada alasan untuk menolak, masyarakat desa Merto pun menyambut gembira atas perjodohan ini karena mereka semakin yakin bahwa kelak Projo akan menjadi lurah mereka dan Triyatilah wanita yang paling pantas menyandang gelar bu lurah.
Triyati menjadi bingung, di hatinya hanya ada satu cinta yaitu Joko, tetapi pada kenyataannya harus berumah tangga dengan Projo, dalam kebingungannya Triyati mengajak Joko untuk pergi ke Jakarta meninggalkan desa mereka.Namun dengan berbagai pertimbangan Joko menolak Ajakan Triyati.Triyati yang putus asa tersebut akhirnya pergi/ minggat sendiri persis menjelang hari pernikahannya.
.Mengetahui Triyati minggat dan penyebabnya adalah Joko sahabatnya sendiri, Projo langsung terjatuh pingsan, bukan hanya pingsan biasa tapi pingsan yang luar biasa yang hampir saja merenggut nyawanya, semua indikator kehidupan, detak jantung, denyut nadi dan tarikan nafasnya terus melemah, dokter harus bekerja keras untuk menyelamatkan nyawanya.
Sementara itu Joko langsung di adukan ke pengadilan kelurahan dengan tuduhan merusak pager ayu (rumah tangga) orang lain, jika terbukti hukumannya sungguh berat, di desa Merto pelaku perusak pager ayu hukumannya hanya satu yaitu di usir dari desa, jika pelakunya masih lajang maka ia akan di usir bersama orang tuanya, jika pelakunya sudah berumah tangga maka ia akan di usir bersama anak-anaknya.
Untunglah Joko tidak terbukti merusak pager ayu, sebab ketika Joko merayu dan menyatakan cinta pada Triyati, Triyati belum di lamar Projo.Namun karena akibat minggatnya Triyati menimbulkan banyak kerugian pada orang tua Triyati, orang tua Projo, dan masyarakat Merto pada umumnya, maka Joko tetap di hukum dengan tuduhan melakukan perbuatan tidak bertanggung jawab, yaitu sudah merayu wanita padahal belum siap berumah tangga.
Setelah Triyati minggat, orang tua Triyati melakukan upaya supaya Triyati balik lagi ke kampung, salah satu cara yang di tempuh adalah mendatangi orang pintar/ dukun .untuk menarik pulang kembali (dengan cara gaib).Sang dukun pun memberi piranti untuk melakukan pemanggilan orang yang minggat (puter giling).
Sarananya adalah gentong yang di isi air setengah, pakaian/ barang apa saja milik orang yang minggat tersebut, serta minyak wangi dari sang dukun, semua di masukkan ke dalam gentong. Ketika bedug magrib dan jam dua belas malam, orang yang minggat harus di panggil dari mulut gentong itu, jika air di gentong bergelombang itu artinya, hatinya yang di panggil itu telah tergerak untuk segera pulang, jika airnya tidak bergerak sama sekali maka bisa di pastikan yang di panggil itu tidak merasa apa-apa.
Dan syarat utama dalam puter giling ini adalah yang memanggil haruslah orang yang sangat di cintai yang di panggil (yang minggat), itulah sebabnya puter giling ini bernama tali sukmo. Ketika seluruh keluarga Triyati mencoba memanggil dari mulut gentong, air di gentong sama sekali tidak bergerak,
Karena keluarga Triyati tidak ada yang mampu menyentuh hati Triyati akhirnya Joko di suruh memanggil, benar saja baru saja Joko melongokkan mukanya ke mulut gentong, air dalam gentong langsung bergelombang hebat, di ujung sana di Jakarta sana, Triyati langsung ingat Joko dan ingin langsung pulang untuk menemui orang yang di cintainya itu.
Tapi sayangnya Triyati sudah di kuasai oleh seorang germo yang memiliki dukun yang sangat sakti, sehingga pengaruh puter giling tali sukmo yang memanggil dirinya dapat di netralisir, bahkan dari Jakarta dukun sakti tersebut mampu memecahkan gentong dan mampu mencederai dukun pemilik ajian puter giling tali sukmo yang berada di desa Merto Jawa tengah.Akhirnya pemanggilan Triyati gagal total, bukan hanya gagal ternyata  tanpa ada yang tahu Joko telah terkena serpihan atau semacam radiasi ajian puter giling tali sukmo yang telah di hancurkan oleh dukun sakti dari Jakarta tersebut. akibatnya Joko sering berhalusinasi, khususnya pada malam hari, Joko merasa Triyati memanggil-manggil dirinya dari tempat gelap, tentu saja Joko menghapirinya.
Semenjak itu,kalo malam hari Joko jadi sering pergi ke tempat-tempat gelap yang kelihatannya sepele, tapi sebenarnya sangat berbahaya bagi keselamatannya Joko.Sebab Joko sering dikira maling atau pelaku kejahatan lainnya.Lebih berbahaya lagi kalau kebiasaan ketempat-tempat gelap itu di lakukan di Jakarta, dan di akhir cerita episode “PUTER GILING TAL SUKMO” ini adalah Joko berangkat ke Jakarta, untuk mencari kerja dan untuk mencari jejak Triyati.
Di masa yang akan datang, insya allah akan saya lanjutkan dengan episode “SURATAN TAKDIR”, di situ akan di ceritakan bagaimana perjuangan dan kesuksesan Joko di Jakarta, juga bagaimana perjuangan Projo dalam mengobati luka hatinya dan menumbuhkan rasa percaya dirinya.
Projo sukses di pendidikan di Yogyakarta hingga akhirnya menjadi dokter dan praktik di kampungnya, Joko sukses dalam pekerjaan di Jakarta dan sering membantu orang-orang Merto yang sedang mencari kerja di Jakarta.Projo dan Joko kembali menjadi  idola di masyarakatnya, untuk masyarakat yang mampu dan berpendidikan Projolah idolanya, sedangkan untuk masyarakat yang tidak mampu dan mencari kerja di Jakarta, Jokolah idolanya.
Namun Projo dan Joko berseteru, bagi Projo, seluruh kebahagiaannya, seluruh kehormatannya, dan seluruh hidupnya telah di rampas oleh Joko, itulah sebabnya Projo enggan berdamai dengan Joko.Sementara Joko terus berusaha untuk mendekati Projo untuk memberi penjelasan.
Akhirnya pemilihan kepala desa menjadi moment bagi keduanya untuk berdamai, Projo sudah pasti mencalonkan diri dan Joko tentu saja tidak, sebab karena pekerjaannya, Joko mengharuskannya tetap berada di Jakarta, namun pengaruhnya Joko di desa sangat kuat sehingga Joko menjadi rebutan bagi para calon kepala desa untuk bergabung menjadi tim suksesnya.
Projo yang merasa kesulitan untuk meraih banyak simpati akhirnya terpaksa mengajak Joko untuk bergabung dengannya, kedatangan Projo ke tempatnya membuat Joko punya kesempatan untuk menjelaskan segala sesuatunya, dialog atau tepatnya perdebatan seru antara Joko dan Projo pun terjadi untuk mengetahui siapa yang paling bersalah atas minggatnya Triyati belasan tahun yang lalu, antara siapa yang paling benar, siapa yang paling di untungkan, dan siapa yang paling di rugikan.
Dari perdebatan itu Joko dapat mengambil kesimpulan bahwa Projo memang layak menjadi pemimpinnya, Joko pun bergabung, dan berkampanye untuk kemenangan Projo.Akhirnya Projo menang dan menjadi kepala desa di desa Merto.Sebagai ungkapan terima kasih, Projo merestui Joko untuk menemukan Triyati dan menikahinnya.
Selama belasan tahun Joko mencari Triyati, jejaknya pun belum pernah di temukan, namun ketika Projo telah memberi ijin, tidak lama kemudian tahun 1986 Triyati dapat di ketemukan oleh Joko.Tapi Triyati saat di temukan sudah dalam keadaan kritis karena mengidap aids dan akhirnya mati dalam pelukan Joko, sebelum mati Triyati berpesan agar Joko mau memintakan maaf pada Projo dan memintakan maaf pada orang tuanya dan meminta agar jasadnya di makamkan di desa Merto tempat kelahirannya.
Dengan hati berkeping keping Joko membawa pulang jasat Triyati, Projo menyambut kedatangan jasad Triyati dengan hati yang tak kalah pedihnya.Dalam eleginya, Projo menyatakan “Triyati engkau adalah gadis kecil yang selalu ku sayangi, seribu kali engkau menyakiti hatiku, seribu kali pula aku memaafkan mu”.Joko dan Projo mengantarkan Triyati ke pembaringannya yang terakhir.

0 komentar: