Home » , » Fresh Book: Kado Untuk Jingglang

Fresh Book: Kado Untuk Jingglang

Kado Untuk Jingglang (sebuah novel)
Pengantar Dari Penerbit

Sebuah novel cinta, demikianlah kami menyebutnya. Bukan sebuah cinta picisan, tapi cinta yang lahir dari kedalaman pengalaman, pergulatan, dan harapan. Bukan sebuah cinta remaja, tapi cinta anak manusia yang bukan lagi berfikir untuk kebahagiaan dirinya namun tentang pengorbanan yang sesungguhnya.
"Tak ada cinta yang lebih besar daripada cinta seorang yang menyerahkan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya"
Ungkapan yang sangat terkenal kemudian sangat pas  jika anda membaca novel ini. Cinta yang sedalam-dalamnya. Cinta yang memberikan. Bahwa anak adalah anugerah terindah yang semestinya disyukuri dan diperjuangkan. Bahwa orang harus membagi bahkan bertukar kebahagiaan dengan orang yang sangat dicintainya. Demikianlah kita belajar dari sebuah pengalaman seorang anak bernama Jingglang yang sangat beruntung mendapatkan cinta semacam itu.
Cinta tak pernah gagal. Demikianlah kami belajar dari sini. Apapun dipertaruhkan deminya dan seberapapun hasilnya, biarlah cinta itu sendiri yang menentukan. Jingglang, padhang jingglang, terang benderang hidup ini. Bukan di mata, tapi jauh di sudut hati kita bisa menemukannya.

Resensi
Buku ini diawali dengan sebuah prolog yang menjadi kisah pengunci, dan sebagai sebuah cerita yang diangkat dari kisah nyata jelas tidak berbicara tentang intrik dan alur yang berkelok-kelok, seorang bapak yang mendapati bahwa anaknya didiagnosa menderita gangguan penglihatan. Tentu kita sudah bisa menebak, betapa terkejut dan juga terpananya si bapak yang mendapati kenyataan semacam itu. Dengan bahasa yang mengalir dan mendalam, si penulis mencoba memaknai peristiwa dalam hidupnya.
Cerita kemudian berlanjut dengan kisah kelahiran sang anak yang memang sudah penuh perjuangan. Seorang anak yang sekian lama diharapkan, kemudian lahir dalam kondisi prematur. Sebagai kelahiran yang 'extra ordinary' pengalaman ini bukanlah hal yang mudah.
Penulis mengisahkan kejadiannya dengan latar belakang gunung Tidar dan sejauh kita tahu, tempat ini merupakan basis pendidikan calon-calon militer. Tidak ada hubungannya dengan dunia militer, tapi lokasi tempatnya di Magelang akan cukup membawa kita dalam suasana kota kecil namun vital dan sekaligus menjadi tempat di mana penulis (dalam tokoh tersebut menggunakan kata ganti orang pertama tunggal) kemudian nanti membawa dan memperjuangkan cintanya. Dari Magelang, nanti akan berjalan atau lebih tepatnya membawa sang anak ke Bandung, ke Jakarta, bahkan sampai ke Singapura. Sebuah pertaruhan hidup yang luar biasa untuk sang anak yang dulunya lahir prematur dan dalam kondisi sakit.
Setelah kisah kelahirannya, sang anak yang kemudian diberi nama Jingglang itu kemudian hadir dan memberikan suasana kebahagiaan pada keluarganya. Pada kedua orang tuanya, pada juga kakek neneknya. Lahirnya saja sudah membawa kebahagiaan, justru karena pertaruhan yang luar biasa antara berhasil dan tidak ketika melahirkan. Permasalahan tidak sampai di situ, tapi kemudian dalam situasi yang terlambat, disadari bahwa sang anak menderita sebuah penyakit yang diakibatkan oleh kelahirannya yang prematur. Dia kehilangan penglihatannya.
Di sinilah kemudian kita akan mengharu biru dibawa pada sebuah pengalaman bagaimana memperjuangkan kesembuhan bagi anak yang terkasih. Mulai bagaimana diagnosa dokter, bagaimana doa sang ayah dan pengalaman spiritualnya (sebuah kisah yang sangat jujur), bagaimana dia menceritakan penyesalannya (nyesek) dalam situasi yang kita semua bisa berandai-andai bahwa andai semua disadari lebih awal tentu situasi tidak akan seburuk sekarang, bagaimana kemudian mengusahakan kesembuhan ke mana-mana.
Bagi kami yang menarik adalah adegan ketika sang ayah kemudian setelah mendapati kenyataan itu pulang dalam keheningan dan menangis. Inilah pada hemat kami, sebuah tangisan paling jujur dari seorang ayah, dari seorang lelaki, dari seorang suami yang bertanggung jawab dan merasa mengapa semuanya menjadi begini.... Tangisan seorang lelaki, bukanlah sebuah tangisan emosional, tapi tangisan kejujuran.... pada saat ini dia sedang benar-benar berdoa dan mungkin inilah doanya yang sebenar-benarnya doa. Dia mengakui, selama ini memang dia berdoa, tapi baru sekarang merasa benar-benar berdoa!
Adegan kedua adalah adegan ketika dia yang menjadi tokoh utama itu meneteskan obat ke matanya, obat yang digunakan kepada anaknya agar pupil matanya terbuka, obat yang sangat perih... dan ketika dia mengatakan kalau dia akan menetesi sendiri mata anaknya, padahal yang sebenarnya adalah ingin meneteskan sendiri ke matanya. Pengalaman yang luar biasa....

Dokter-Dokter
Andai saja dokter sejak awal sudah tahu bahwa penglihatan si anak akan berpotensi terganggu, demikian si aku kemudian berfikir, jelas dapat ditangani secepat mungkin dan semaksimal mungkin. Lalu mengapa tidak sejak awal dikatakan? Inilah yang kemudian juga akan mengantarkan kita pada sisi manusiawi dan keterbatasan paramedis di sini. Dalam arti tertentu, kita diajak untuk melihat bagaimana perawatan medis di Jogja, di Bandung, di Jakarta, sampai ke Singapura.
Jadi, novel ini sekaligus menjadi jendela kita untuk melihat dunia para pengabdi kehidupan di berbagai tempat. Dokter dengan kecanggihan yang sangat mutakhir sesungguhnya juga harus bisa rendah hati bahwa mereka juga ada dalam keterbatasan. Tekhnologi sendiri menjadi sesuatu yang bukanlah satu-satunya mesti kita andalkan. 

Tentang Novel Ini
Pada hemat kami, kekuatan novel ini bukan pada pengisahannya karena bagaimanapun juga kita akan dihadapkan pada keterbatasan pengisahan. Kekuatannya ada pemaknaan dan pergulatan batin sebuah cinta. Banyak orang yang mengalami peristiwa kurang lebih serupa, banyak yang memikirkannya, namun tidak banyak yang memaknainya. Pengalaman musibah itu biasa, tapi memaknainya kemudian menjadikannya luar biasa!
Gaya bahasanya mengalir dengan indah dan menyentuh, ini juga kekuatannya. Apalagi, didasarkan pada sebuah kisah nyata. Buku tidak membosankan ketika dibaca dan anda akan ikut hanyut dalam pengalaman di dalamnya.
Penulisnya sendiri adalah seorang sarjana sastra sejarah sehingga bisa menguraikannya dengan tidak membosankan. Seandainya kami yang menulis akan menjadi berbeda dan terlalu banyak busanya, kalau itu sabun. Hanya sayang sekali, bahwa sang ibunda dari Jingglang tidak begitu masuk dalam pergulatan ceritanya. Semuanya murni dalam sudut pandang seorang ayah, seorang suami, dan seorang laki-laki. Ini menjadi kekuatan, keotentikannya, tapi juga akan lebih baik kalau ada pergulatan itu. Setidaknya memang kita yang membacanya akan merasa bisa menebak sudah.
Tebak-tebakan yang terakhir adalah endingnya. Karena di sini lebih merupakan pergulatan cintanya sehingga tidak ingin menampilkan alur yang lengkap layaknya novel-novel fiksi. Kita bisa menebak dan mungkin bertanya lebih lanjut pada penulisnya sendiri, apa yang terjadi kemudian. Yang jelas, buku ini merupakan sebuah kado, untuk Jingglang sang anak, tapi juga untuk kita semua. Menegaskan pada kita bahwa sesungguhnya cinta tidak pernah usai.
(buku ini sudah banyak dicetak dan rencananya akan didistribusikan di toko-toko buku, sayangnya buku sudah habis sebelum didistribusikan lebih luas dan sedang dicetak ulang. Lebih lanjut tentang buku ini silahkan membacanya dan memesannya di sini)
Judul      : Kado Untuk Jingglang
Penulis    : Herning Madyatmoko
Penerbit   : Mer-C Publishing
ISBN       : 978-602-1062-64-7

0 komentar: