Home » , , » Rendahnya Minat Membaca di Indonesia

Rendahnya Minat Membaca di Indonesia

Tulisan dari Kompasianer bernama Thamrin Sonata. Aslinya silahkan klik di sini.
MENUMBUHKAN minat baca, agaknya seperti mendirikan benang basah. Sulit alias tak mudah. Tak berlaku gampang-gampang susah. Karena faktanya, kini,  adalah itu: berhadapan dengan era visual, gadget atawa dunia bukan teks.
Oleh karena itu, data UNESCO per 2012, menunjukkan minat baca negeri ini di angka 0,0001. Persisnya hanya satu judul buku di antara seribu orang penduduk negeri yang dihuni di kisaran 235 juta jiwa yang menyimak larik-larik memusingkan itu. Mau apa?
Nggak usah membandingkan dengan Negara yang reading habitnya tinggi dan bagus. Sebab, dengan tidak membacanya “kita” – entah siapa kita persisnya – maka per usia 70 tahun Republik ini merdeka tiras Koran paling terkenal pun kian terpuruk. Kurang dari satu juta, diambil dari angka yang tak mengejutkan. Maka penulis tak perlu heran apabila di satu gerbong tak seorang pun sedang membaca buku, sedangkan Koran pun tidak. Bukankah dalam satu gerbong commuterline diisi seratus orang lebih? Jika KA ulang-alik berderet 8 (delapan) gerbong, maka angkanya di seribuan. Alias kalau saya tak dihitung hanya ada seorang yang membaca.
Pemandangan tak indah itu, suudzon-buruk sangka? Karena boleh jadi ada yang menyimak e-book? Bisa jadi. Tapi bila mengacu indeks minat baca yang UNESCO keluarkan, masih di angka track yang benar. Jika pun lebih dari satu orang dari seribuan orang penumpang di commuterline, itu di ibukota Negara. Di mana peredaran rupiah (baca: uang, karena boleh jadi tak hanya rupiah yang sedang terpuruk) di kisaran 60 persen ada di Jakarta. Artinya lagi, di daerah yang keuangannya memble – banyak yang terpuruk, sebenarnya – apalagi memikirkan membaca buku. Sebab, nggak baca buku toh nggak mati.
Teman, data yang saya terakan per satu orang dari seribu orang Indonesia yang membaca buku ini saya dapatkan di KOMPAS, Sabtu (22/8) di halaman 11 dengan dibarengi ilustrasi perpustakaan Umum Daerah Provinsi DKI Jakarta. Lalu, di halaman yang sama, ada teks pendek. Bahwa Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah. Klop.
“Kegiatan ini tidak hanya membaca, tetapi juga menulis yang dilandasi dengan keterampilan atau kiat untuk mengubah, meringkas, memodifikasi dan menceritakan kembali,” ungkap Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Mahsum.
Rasanya, sebuah cita-cita mulia. Mengingat, konon, dengan gerakan tersebut di atas bisa menjadikan siswa menjadi lebih berudi pekerti yang lebih baik. Setuju. Persoalannya klasik. Ya, angka-angka yang dilansir UNESCO tadi. Sebab, buku Rahasia TOP Menulis-nya Much. Khoiri, kebetulan Kepala Bahasa di Universitas Negeri Surabaya, ini pun membuktikan. Buku yang dijual di seluruh jaringan TB Gramedia – notabene ada sebagian besar wilayah negeri ini, dalam enam bulan hanya terjual 1.200 eksemplar. Judul yang menggelitik dan ditulis untuk menggeret orang untuk menulis itu, sebagai salah satu bukti. Mengingat rata-rata buku di negeri ini dicetak di angka 2.000, dan sebagian besar “terjual biasa-biasa saja”.
Penulis pun geleng-geleng ketika Pemerintah membebaskan sejumlah pajak untuk “dunia hiburan”, namun tidak untuk penerbitan, dalam hal ini “pembebasan kertas”. Dampak dari pembebasan pajak ini adalah untuk menurunkan harga buku, yang terbilang tinggi. Memang, kadang soal membaca buku (fisik) tak bisa disandingkan dengan kemahalan sebuah buku. Ini lebih disebabkan budaya baca yang rendah. Hal yang kerap “disesalkan” penggiat KPBA (Kelompok Pencinta Buku Anak” Murti Bunanta, pengajar UI. Karena sebelum kita menyimak buku sudah diserang era gambar, TV terutama.
Untuk menggiatkan minat baca, sudah berulangkali diperbuat oleh Pemerintah. Semisal adanya perpustakaan keliling, dengan mobilnya yang dibuat bagus, nyaman dan menarik – terutama – untuk anak-anak. Namun pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang bukan karena tarikan hati, kerap pula membosankan para Pegawai itu. Mengingat Perpustakaan keliling dihuni oleh mereka yang kerap dianggap “tempat buangan”. Sama seperti periset, dianggap “orang tak terpakai”. Apa boleh buat.
Ada sebuah reportase menarik dari KOMPAS berikutnya yang bisa dicatat di sini. Yakni seorang swasta dan berpenghasilan rendah, tiap beberapa hari sekali dalam sepekan mengiderkan sejumlah buku bacaan gratis. Lelaki di lereng Gunung Slamet, Jawa Tengah itu dengan kudanya menyambangi penduduk sekitar. Bisa dibayangkan, berapa judul buku yang bisa ditawarkan olehnya? Sedikit, tentu.
Pekerjaan yang membuat penulis menahan nafas. Ia tak dibayar, dan mencerahkan warga, terutama anak-anak untuk “membaca” buku-buku yang seadanya itu. Ia, tentu takkan pernah bisa mendongkrak angka-angka laporan UNESCO yang menyedihkan itu. Bahwa penduduk negeri ini yang telah merdeka 70 tahun, hanya 1 (satu) orang yang membaca dari sekumpulan seribu orang. Kita payah, memang dalam soal yang satu ini! Karena kita, walau rame-rame, seperti menegakkan benang basah? ***        

0 komentar: