Home » » Re-stock: Refleksi dan Relevansi Pancasila

Re-stock: Refleksi dan Relevansi Pancasila


Buku ini merupakan buku ditulis sebagai bahan dan materi pendidikan di Universitas. Selain berisi tentang panduan dasar materi yang dipersyaratkan oleh Dinas Pendidikan untuk Perguruan Tinggi, buku ini juga dilengkapi dengan refleksi serta relevansinya dalam kehidupan sehari-hari, khususnya untuk membentuk profesional muda yang memadai di abad ini.
Tentu saja materi-materi yang ada di dalamnya masih harus diperdalam dan diperjelas. Masing-masing pembaha-san akhirnya hanya bersifat pengantar agar pembaca sekalian mengenal keka-yaan ideologi bangsa yang ada di dalamnya, kemudian berdiskusi lebih lanjut agar moralitas bernegara kita menjadi lebih hidup.
Sumber-sumber pembahasan memenuhi persyaratan DIKTI dan diperdalam dengan sumber utama dari buku Negara Paripurna karangan Yudi Latief. Bu-ku ini membahas dengan sangat kom-prehensif historisitas Pancasila. Sebisa mungkin, para mahasiswa juga mem-baca buku ini. Buku penunjang yang lain adalah buku kuliah Pancasila karangan Prof. Kaelan dari UGM yang banyak menjadi rujukan dari berbagai pembelajaran Pancasila oleh para pe-ngampu perkuliahan ini. Sebuah buku yang cukup baru, juga menjadi bahan Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi karangan Dr. Syahrial Sarbaini.
Buku ini sengaja disusun tersendiri karena tuntutan implementasinya bagi pendidikan untuk membentuk para profesional. Oleh karena itulah, tiap-tiap implementasi sila-sila Pancasila diarahkan pada sebuah pembentukan karakter budaya kerja sebagai sebuah tuntutan nyata di era globalisasi ini.

Pengantar
Tiba-tiba saja kita terkejut ada remaja dan pemuda yang meledakkan diri di gedung-gedung dan dicap sebagai teroris. Usianya masih belasan tahun. Ada apa sehingga di usia semuda itu, dia rela bunuh diri atas nama agama? Padahal kebanyakan pakar agama melihat bahwa tindakan itu bertentangan dengan kaidah-kaidah agama. Fenomena ini menjadi menarik karena adanya penafsiran yang tidak tepat terhadap agama yang semestinya menjadi rahmat bagi semesta. Ceritanya akan menjadi berbeda juga manakala pelakunya adalah orang yang lebih tua.
Hal yang tak kalah mengejutkan tentu adanya pemuda-pemuda yang terlibat korupsi. Di tahanan KPK banyak sekali orang muda yang dulunya dikenal cerdas dan berprestasi. Angelina Sondakh misalnya, selain pernah menjadi puteri Indonesia, juga menjadi politikus yang cukup berpengaruh. Bayangkan, puteri Indonesia bisa jadi koruptor. Apakah gajinya terlalu kecil? Saya pikir tidak. Dia rela meninggalkan dunia keartisannya demi memperjuangkan kehidupan masyarakat di bidang politik. Mengapa justru sekarang menjadi musuh bersama? Dia di tahanan KPK bersama dengan wanita-wanita lainnya yang juga terlibat kasus korupsi.
Anas Urbaningrum adalah salah seorang warga tahanan KPK yang dulunya pernah menjadi ketua HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Mengapa akhirnya diapun menjadi tahanan KPK? Apakah dia kurang cerdas? Sangat cerdas. Akhirnya, tanpa basis moral yang baik, orang yang cerdas dan religiuspun bisa terlibat praktik-praktik kotor yang dikutuk bersama.
Bandingkan dengan para pemuda berprestasi yang mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia! Beberapa waktu lalu, ada sebuah buku berjudul Catatan Emas yang mengisahkan tentang 20 pemuda Indonesia yang berprestasi. Ada Muhammad Akbar Rhamdhani seorang doktor metal penggemar rock, ada Albert  Wilson Yonatan Tumewu, ada Saur Marlina ‘Butet’ Manurung seorang pengajar rimba, ada Dewi Dee Lestari, dll. Bayangkan dan bandingkan, mana yang lebih membanggakan, menjadi orang sukses di usia muda atau menjadi pengebom bunuh diri yang masih muda? Bahkan keluarganyapun malu menerima jenazahnya.
Refleksi dan relevansi Pancasila, mengajak untuk merenungkan kembali secara lebih jujur tentang makna sebuah ideologi dari kedalaman permenungan para pendiri negara Indonesia. Nilai-nilai Pancasila semestinya tidak menjadi bahan hafalan secara formal di tempat-tempat pendidikan dan di kantor-kantor pemerintahan. Kalau saja, setiap nilai yang ada diterapkan dan paling tidak menjadi filter tindakan dari individu dan masyarakat Indonesia, keadaan akan menjadi lebih baik. Nilai demokrasi, religiusitas, kemanusiaan, kesejahteraan bersama, dan juga persatuan tak akan mengantarkan masyarakat pada sebuah kehancuran.

Sebaliknya, nilai-nilai itu bisa mengantarkan orang pada sebuah prestasi dan juga kesejahteraan baik sebagai individu maupun sebagai sebuah masyarakat. Kita tentu menginginkan sebuah masyarakat yang religius tapi juga manusiawi. Menginginkan masyarakat yang solider tapi juga makmur.

Judul      : Refleksi dan Relevansi Pancasila
Penerbit : Mer-C Publishing bekerja sama dengan Red Carpet Studio (edisi I)
ISBN    : 978-602-7591-17-2

0 komentar: