Home » , , » Fotocopy V.S. Nerbitkan Buku

Fotocopy V.S. Nerbitkan Buku

Ketika awal-awal saya terbersit untuk membukukan bahan ajar saya, praktis yang saya bayangkan adalah foto kopi karena saya tidak menemukan referensi yang memadai sebagai bahan kuliah. Adfa juga sebenarnya, hanya saja tidak mungkin saya membebankan buku-buku yang ada pada mahasiswa. Ya sudah, saya mantapkan fotokopi. Jatuhnya pasti murah. Saya bayangkan 150 halaman, paling hanya habis 15.000 rupiah per eksemplar. Pengandaian saya foto kopi per halaman kan paling mahal 100 rupiah. Kalaupun kemudian ditambah dengan sampul dan jilid, katakanlah jatuhnya 20 ribuan. Apalagi, saya membayangkan yang lebih ngirit lagi, 150 halaman kan bolak-balik, bisa dibagi 4. Jadinya bisa seperempatnya don
g. Harusnya tidak nyampe 15 ribu rupiah malah.
Saya print outlah naskah yang ingin saya jadikan bahan ajar. Saya bawa ke tempat fotokopi. Benar sih, harga fotokopinya murah. Tidak sampai lima ribu rupiah. Yang mahal kemudian ada ongkos jilid, ongkos potong kertas, ongkos laminating, ongkos print kover plus kertasnya, dll. Lah lalu saya tanya, jadinya berapa mas?
Ya sekitar 40-50 ribuan deh.
Blaik!!!! Hahaha... itu ah, mau ngirit malah gigit jari. Mau membantu mahasiswa malah jomprongin. Ya tahu sendirilah kwalitas fotokopian kayak apa. Masa iya, mau membagikan ke mahasiswa buku fotokopian seharga itu....
akhirnya searchinglah saya penerbitan buku secara terbatas. Ketemu penerbitan indie. Maka pengalaman pertama menerbitkan buku secara indie lumayan jadi pembelajaran. Pertama, yang jelas ongkosnya waktu itu menjadi jauh lebih murah. Hanya 30 ribu sudah dengan ISBN. Kedua, kwalitas jilidannya memuaskan. Ketiga, tentu saja keren karena meskipun saya tidak ambil untung, tapi secara mental saya mendapatkan keuntungan dengan mengatakan, "silahkan lihat yang saya tulis di buku saya!"
Bayangan saya waktu itu, setelah sekian lama mahasiswa belajar dan menyenangi apa yang saya ajarkan, mereka kemudian lupa dengan materinya. Maka, buku adalah salah satu andalan saya supaya mereka ingat dengan apa yang pernah saya ajarkan. Dulu sebelum ada buku, saya kalau ditanya tentang kasus-kasus yang saya ajarkan selalu harus menjelaskan ulang. Nah, sekarang tinggal saya bilang ajah ke penanya itu, pahami dulu yang saya tuliskan.
Penerbitan berikutnya, meskipun agak mahal tapi saya mendapatkan kwalitas penerbitan yang jauh lebih bagus. Meskipun waktunya relatif lebih lama. Sayang sekali, penerbit indie tersebut sekarang sudah tidak lagi aktif.
Adakah kekecewaannya? ada. Pertama, saya pernah kecewa karena materi Pancasila yang mengangkat nilai-nilai kebhinekaan ditolak oleh sebuah  penerbit indie. Bayangpun, penerbit indie menolak buku yang seperti ini dengan alasan ideologi agama. Ya sudah. Yang kedua, Ada juga yang model paketan namun penjualan POD hanya pada penerbit. Ya jelas di sini kemudian jatuhnya lebih mahal karena tidak jauh berbeda dengan buku-buku mayor di toko buku. Itupun penjualannya tidak begitu jelas. Saya kan tidak profit oriented.
Ada juga yang bisa murah, tapi kwalitas jilidannya jelek. Jadinya ya sudah. Nah, sampai akhirnya saya mempelajari penerbitan indie dan mendapatkan percetakan yang murah. Kalau dihitung-hitung, ongkosnya tidak sampai separuhnya dari penerbitan indie pada umumnya. Jadilah akhirnya saya memantabkan diri membantu pembaca sekalian untuk menerbitkan buku secara indie. Hanya saja dengan beberapa inovasi yang saya buat sebagai pembeda.

Umumnya.... penerbitan akan bisa murah dengan minimal 100 eksemplar terbit. Di tempat kami, bahkan yang 40 eksemplarpun harganya sudah jauh lebih murah.
Ya sudah, sekedar sharing. Kalau anda ingin membukukan karya anda, daripada hanya model fotocopian yang jatuhnya bisa sangat mahal, kenapa ga dibukukan ajah sekalian. Murah dan berkwalitas.

0 komentar: